Tradisi Sapa dan Salim, Jembatan Kasih Sayang

Kota Bima, 9 Februari 2026

Gema lagu Indonesia Raya baru saja usai di lapangan SDN 13 Kolo Kota Bima. Sebelum melangkahkan kaki menuju ruang kelas masing-masing, ratusan siswa dengan tertib membentuk barisan panjang untuk melakukan tradisi "Sapa dan Salim" kepada bapak dan ibu guru. Di bawah sinar matahari pagi yang mulai meninggi, para guru berdiri berjejer dengan senyum ramah, menyambut uluran tangan mungil para siswa yang mencium tangan guru mereka dengan penuh rasa hormat. Suasana lapangan pun menjadi syahdu, diwarnai dengan sapaan lembut dan doa-doa pendek yang dibisikkan guru kepada muridnya, menciptakan ikatan batin yang kuat sebelum proses belajar dimulai.

Kegiatan rutin setiap Senin pagi ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah aksi nyata dalam menanamkan budi pekerti dan karakter mulia sejak dini. Melalui sentuhan tangan dan tegur sapa yang tulus, tercipta rasa aman dan nyaman bagi siswa, seolah mereka sedang berpamitan kepada orang tua sendiri untuk menuntut ilmu. Para guru percaya bahwa keberkahan ilmu bermula dari rasa hormat seorang murid kepada pendidiknya, dan momen "Salim" ini menjadi simbol ketulusan tersebut. Dengan hati yang tenang dan semangat yang terpompa berkat sapaan hangat guru, para siswa memasuki ruangan kelas dengan kepala tegak, siap menyerap setiap pelajaran dengan penuh sukacita. (Dy)